Berbicara mengenai Seks dan perubahan penalaran yang ditemukan dalam pembahasan seksualitas baik itu dari sudut pandang Filsafat, Psikologi, Biologi maupun teologis, sangat luas. Mungkin seperti yang dikutip oleh penulis Teologi Seksualitas, Geoffrey Parrinder, terhadap Edwin Smith yang pernah mengatakan:Menulis tentang Ba-ila dan mengabaikan seluruh referensi pada seks akan seperti menulis tetang angkasa dan menghilangkan matahari; karena seks menrupakan elemen paling meresap dalam kehidupan mereka. Ia adalah atmosfer tempat anak-anak dibawa kedalamnya. Usia-usia awal mereka sebagian besar merupakan persiapan fungsi seksual. Selama usia-usia dewasa seks merupakan pencarian mereka yang paling bergairah, dan usia tua dihabiskan dalam usaha-usaha yang sia-sia dan mengecawakan untuk melanjutkan… Bagi mereka, hubungan kelamin sama halnya seperti makan dan minum, harus dituruti setiap kemungkinannya .Manakala seseorang berbicara mengenai seksualitas, orang tersebut diperhadapkan dengan berbagai pandangan, bukan hanya dari sudut pandang keagaman tertentu tetapi juga dari sudut pandang budaya dan praktek sosial, ekonomi, kesehatan juga psikologi. Kalau pada waktu yang lalu mungkin homo seksual dan praktek poligami ditolak oleh masyarakat, saat ini hal-hal seperti itu dianggap lumrah dengan adanya penjelasan ilmiah mengenai gen-gen khusus yang dimiliki oleh kaum yang disebut sebagai kaum homo seksual ini, dan penemuan para ahli, dengan fakta yang menguatkan bahwa di Asia seperti Cina dan Jepang dan Afrika sudah lebih dulu membudidayakan praktek poligini.